Archive for the ‘Philosophy for granny’ Category
Ide menurut Plato (Intepretasi atas cerita 3 ranjang)
Dalam cerita ini, Plato menunjukan bahwa ide adalah cetakan universal atas suatu hal. Ide tidak menunjuk pada suatu hal yang partikular, dalam hal ini ide ranjang misalnya tidak menunjuk pada tipe ranjang tertentu melainkan ranjang yang ideal, yang berdasarkan ide ranjang inilah nanti para pembuat ranjang membuat ranjang tertentu. Disini Plato mengatakan bahwa ide ranjang dibuat oleh Tuhan, dan secara esensial hanya ada 1 (satu) saja ide ranjang di alam semesta ini.
Disini dalam usahanya untuk menjawab pertanyaan tentang siapakah peniru, Plato menceritakan hal ini: Seorang artis disebut sebagai pembuat segala hal yang dikerjakan pekerja lain. Ia mampu membuat bunga, binatang dan segala hal yang ada di bumi dan di surga, bahkan ia mampu membuat dewa-dewa. Dan itu dapat dilakukannya dengan cepat, seperti memutar kaca kesegala arah sehingga segala hal tampak nyata di layar kaca. Namun hal-hal tersebut tidaklah benar (tidak nyata), hanya tampaknya saja nyata. Sehingga artis atau pelukis tersebut tidak dapat dikatakan bahwa ia mengatakan kebenaran.
Berdasarkan pendekatan diatas, Plato mulai menjelaskan tentang siapakah peniru itu. Terdapatlah 3 (tiga) jenis ranjang: 1 (satu) yang ada di alam semesta dan hanya satu, lalu yang lain lagi adalah hasil karya pengerajin kayu, dan yang satunya lagi adalah hasil karya pelukis.
Tuhan, yang entah berdasarkan pilihan atau keniscayaan, membuat 1 (satu) saja ranjang di semesta ini dan hanya 1 (satu) saja. Dan itu adalah ranjang yang paling ideal. Namun ciptaan ini tidak menunjuk pada ranjang tertentu karena Tuhan adalah pembuat asli dari ranjang yang asli. Ranjang yang ideal.
Sementara sang pengerajin kayu adalah pembuat ranjang tertentu. Dan sang pelukis karena tidak bisa disebut sebagai pembuat ranjang, maka dialah yang disebut si peniru. Seperti halnya seorang penyair yang juga adalah peniru, maka para peniru terbuang 3 (tiga) kali jauhnya dari kebenaran. Sang pelukis sendiri hanya meniru hasil karya artis lain, dan itu pun hanya meniru sebagaimana sesuatu itu tampak, bukan sebagaimana sesuatu itu apa adanya. Karena terdapat banyak sudut pandang untuk melihat ranjang, yang menyebabkan ranjang tersebut menjadi tampak berbeda-beda, namun dalam kenyataan ranjang tersebut tidak berbeda.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa para peniru berada sangat jauh dari kebenaran. Hal ini dapat terjadi karena mereka hanya menyentuh bagian kecil saja dari kebenaran dan kebenaran yang kecil tersebut membentuk citra (gambar). Sebagai contoh, seorang pelukis dapat melukis pengerajin kayu walaupun ia tidak tahu apa-apa tentang hasil karya sang pengerajin kayu. Dan jika ia adalah pelukis yang hebat, ia dapat memperdaya anak-anak atau orang yang berpikiran sederhana bahwa mereka telah melihat pengerajin kayu yang sebenarnya.