Apa itu realita? Apakah itu sesuatu yang dapat kita pegang? Sesuatu yang dapat kita lihat? Baiklah, meja ini nyata, namun bagaimana dengan apa yang kita rasakan? Rasa marah, rasa sedih, rasa senang, bahagia, getir. Adakah ini juga nyata? Lalu bagaimana dengan kesadaran kita? Apakah itu juga nyata? Topik itulah yang akan menjadi tema refleksi dalam tulisan ini “Apakah realita itu sesuatu yang ada di luar sana atau apa yang ada di dalam pikiran kita?”
Menurut John Locke (1632 – 1704) pengetahuan kita tentang realita datang melalui pengalaman. Pikiran seorang manusia pada awalnya adalah “tabula rasa” yaitu, seperti kertas kosong yang melalui pengalamannya akan dunia luar dihasilkan pengetahuan tentang realita. Ia menolak akan adanya ide-ide bawaan yang menjadi sumber pengetahuan manusia sebagaimana digagas oleh kaum rasionalis. Locke membagi realita menjadi dua, yaitu realita primer dan sekunder. Realita primer adalah hal-hal yang sifatnya tetap dan melekat pada objek, yaitu hal-hal yang bisa diukur dari objek misalnya beratnya buah apel dan bentuknya buah apel sedangkan realita sekunder adalah kualitas yang dipersepsikan manusia terhadap objek dan sifatnya berubah-ubah seperti warna merah pada apel dan bau harum pada apel. Manusia menggabungkan kedua realita primer dan sekunder itu untuk membentuk pengetahuan tentang buah apel. Buat Locke kebenaran yang hakiki dari sebuah idea terdapat di dalam realita primernya, ia mengakui adanya realita objektif yang terlepas dari persepsi manusia terhadap objek.
Namun berbeda dengan Locke, George Berkeley (1685 – 1753) berpendapat bahwa yang “ada” adalah idea dan kesadaran manusia yang mempersepsikannya. Ia menentang materialisme. Dalam hal ini Berkeley membuat 3 dakuan: pertama, bahwa objek pengetahuan manusia adalah idea; kedua, ada kesadaran manusia (disebut juga pikiran, jiwa, spirit atau “aku”) yang mempersepsikan idea; ketiga, eksistensi idea adalah dipersepsikan. Sehingga warna merah pada apel perlu untuk dilihat, bau harum pada apel perlu untuk dihirup, rasa manis pada apel perlu untuk dicicip, bentuk bulat pada apel perlu untuk dilihat barulah apel tersebut menjadi nyata. Menurutnya Esse est percipi: to be is to be perceived.
Di sini ia dengan jelas menentang anggapan filsuf lain yang menyebutkan bahwa sebuah benda dapat memiliki eksistensi di luar pikiran yang mempersepsikannya. Berkeley seorang anti-realis. Dia berargumen bahwa “Apakah objek itu jika bukan sesuatu yang dipersepsikan manusia? Dan apakah yang kita persepsikan itu selain idea dan sensasi inderawi kita sendiri?”
Namun bagaimana dengan idea yang digagas Plato bahwa idea (forma) tidak sama dengan objek yang dicerap indera, bahwa idea-idea kita itu hanyalah berupa fotocopy dari objek yang sebenarnya? Untuk hal ini Berkeley akan berargumen, “Bagaimana sebuah idea bisa merupakan idea yang lain? Adakah idea bau yang tidak dapat dibaui? Idea warna yang tidak dapat dilihat? Idea rasa yang tidak dapat dirasa? Adakah idea warna yang keras, bau atau berisik?”
Mungkin kita dapat sedikit curiga bahwa apa yang dimaksud Berkeley dengan idea yang eksistensinya bergantung pada kesadaran yang mempersepsikannya itu hanyalah realita sekunder milik Locke. Segala properti objek yang dapat diukur tentu tidak tergantung pada yang mempersepsikannya. Namun dapatkah sesuatu diukur jika tak berwarna? Dapatkah sesuatu diukur jika tak dapat dipegang? Bagaimana bisa kualitas primer Locke yang tidak bergantung pada pikiran yang mempersepsikannya bergantung pada kualitas sekunder yang tergantung pada pikiran? Jika demikian maka kedua pembagian realita Locke tersebut runtuh karena eksistensi keduanya bergantung pada pikiran/kesadaran yang mempersepsikan mereka.
Seorang filsuf kognitif masa kini, Donald D. Hoffman menulis dalam situs www.edge.org bahwa ia percaya bahwa hanya kesadaran dan isinya saja yang “ada”. Ruang-waktu, materi dan medan tak pernah menjadi penghuni fundamental alam semesta melainkan sudah sejak awal merupakan isi dari kesadaran manusia dimana eksistensi mereka pun bergantung pada kesadaran kita.
Melihat kesadaran kita demikian fundamental, dapatlah kita bertanya “Apakah kesadaran itu?” Menurut Berkeley, kita tak pernah dapat memiliki idea kesadaran (atau pikiran, jiwa, spirit atau “aku”) karena kesadaran bersifat aktif sedangkan idea bersifat pasif. Namun melihat dakuan Berkeley bahwa kesadaran adalah yang mempersepsikan idea maka selama manusia dapat menunjuk bahwa kesadarannya bukanlah idea yang ia persepsikan maka ia sudah mengetahui kesadarannya. Dalam hal ini hakikat kesadaran hanya dapat diketahui relatif pada idea.
Namun dari mana munculnya kesadaran ini? Apakah dari otak kita? Jika kesadaran muncul dari objek material yang eksistensinya bergantung pada kesadaran yang mempersepsikannya tidakkah itu menjadi putaran paradoks? Menjadi sulit halnya untuk mempertahankan immaterialitas Berkeley disini. Mungkinkah kesadaran itu adalah sebuah aktivitas mempersepsikan dirinya sendiri sebagaimana digagas oleh seorang filsuf kognitif masa kini Douglas Hofstadter? Hal ini seperti tindakan mengarahkan kaca pada sebuah kaca maka akan muncul pola spiral dari gambar kaca yang terus – menerus. Kesadaran adalah sebuah pola.
Begitu rumit hal realita ini. Mungkin kita dapat sepakat bahwa memang ada realita fisik dan ada realita mental namun bagaimana keduanya saling berhubungan kita perlu menelusuri kesadaran lebih jauh lagi. Manusia ada di dunia ini tidak semata-mata untuk “ada” namun ia perlu memahami dan memberi makna, seperti ungkapan seorang yang didakwa cacat mental “to live, is not merely to exist”.