Sahabat itu…
Pernah gak sih loe merasa begitu terbawa oleh perasaan loe sendiri? Sehingga hal itu membuat loe bingung dan resah. Gw menemukan bahwa ternyata ada begitu banyak hal yang gw gak tahu tentang diri gw sendiri yang bahkan saat gw mengetahuinya pun gw merasa gak suka dengan apa yang gw temukan itu. Gw jadi inget sebuah kutipan di buku Do You Think What You Think You Think? – Jullian Baggini & Jeremy Stangroom: “I have opinions of my own—strong opinions—but I don’t always agree with them – George W. Bush”
Gw ternyata begitu keukeuh dan terpesona dengan yang namanya klasifikasi, label atau definisi umum. Sampai-sampai kalau gw mendapati diri gw sendiri out-of-label atau out-of-classification, gw berantem. Yes, berantem dengan diri gw sendiri. Rasanya gw masih jauh banget dari konsep yang namanya Menerima diri sendiri. Kok, gw begini? Kok, gw gak begitu? Kok, gw gak bisa nerima itu? Kok, gw bisa nerima ini? Kok, kok, bisa-bisanya gw begini?? Semuanya campur aduk jadi satu, gak jelas, akibatnya gw pun gak bisa mendefinisikan diri gw sendiri seperti yang gw mau. Kebayang gak sih, loe mesti mendefinisikan diri loe menurut apa adanya elo, sementara loe gak setuju dengan “ke apa-adaan elo” itu. Parah.
Saking begitu banyaknya hal, beberapa lebih parah karena mereka lebih krusial dan esensial, gw terhenyak dengan sebuah tulisan di sebuah blog, yaitu: Bersahabat dengan diri sendiri. Ini rasanya lebih gila lagi.
Sahabat, seperti apa sih mereka bentuknya? Seperti apa sih mereka akan bicara kepada kita? Seperti apa sih mereka akan memperlakukan kita?
Apa kira-kira begini: Bentuk mereka bisa bermacam-macam tapi yang pasti kamu akan merasa saangat nyaman ada bersama mereka. Kenapa? Karena penghakiman gak akan ada dalam mulut mereka, they’re just simply sit comfortably at your side, listening to your story attentively. Loe diam, mereka akan diam atau loe diam, mereka akan bercerita dengan antusias. Loe bicara, mereka pun diam atau loe bicara, mereka pun akan bicara menanggapi. U and him/her are simply meant to be together. Sharing the magnificent of life, exchanging stories, talking whatever it is worth to talk about. In your friendship, there’s no such a thing such as non-sense. Mereka akan bicara dengan lembut dan penuh perhatian sama kita. Kadang-kadang bersemangat, berapi-api karena senangnya. Kadang agak keras tapi tidak memaki atau mencemooh atau memandang rendah diri kita. Karena mereka mengenal kita, karena mereka menghargai kita. Terlebih dari segalanya adalah karena mereka ingin mengenal kita, selamanya.
Thereby, they won’t take us for granted karena mereka tahu dalam diri kita ada begitu banyak hal yang tersembunyi atau belum tampak dihadapan mereka bahkan dihadapan diri kita sendiri. Keingin untuk terus ‘mengenal’ atau memahami kita pun gak pernah surut. Mungkin karena mereka sendiri menyukai petualangan, mereka ikut berpetualang bersama kita, menemukan diri kita yang lain, yang baru, yang belum terungkap. Kadang kita menemukan emas, kadang perak, kadang sumber air, kadang barang rongsokan yang pernah kita pendam, kadang malah mungkin…sesuatu yang busuk yang sungguh busuk dan tak terduga ada disana. Mungkin setelahnya kita akan diam bertatapan mencari makna di ke empat mata, “ini apa?” tapi lalu saling merengkuh dalam air mata.
Sahabat akan memperlakukan kita dengan hormat karena kita sangat berarti untuk mereka. Namun terlebih adalah karena mereka menghormati diri mereka sendiri. Sahabat-sahabat akan bercerita bersisian atau berhadapan di tempat duduk yang sama. Mereka tidak akan meletakan yang satu dibawah kaki mereka. Atau seorang di belakang punggung yang lain saat mereka tengah bertengkar gusar.
Apa seperti itu sahabat? Apakah gw pernah memperlakukan diri sendiri seperti itu? Apa gw bisa menerima kemewahan seperti itu? Kemewahan seorang sahabat untuk diri sendiri?
there’s a saying you cannot really love others if you cannot love yourself… and love begins with an acceptance…. a peace with thyself…..
i am still learning myself….
ksatria: which is indeed harder to declare than we thought so..This is odd, how we find ourselves this enigmatic
mer
January 7, 2008 at 11:07 pm