Dan ruang itu pun kosong..
Semalam aku mencoba bicara dengan diriku. Mendengarkan apa yang ia bicarakan tanpa pretensi, tanpa kerangka pikiran bawaan. Hanya mendengar, cuma mendengar. Hasilnya? gak sempurna. Aku yang diriku ceritakan itu “tampak” absurd, “tampak” kabur dan gak jelas. Tapi nyata dan saangat nyaman berada bersamanya.
Yang terjadi tadi malam seperti pengungkapan diri yang sebenarnya yang setelahnya membuat kita sama-sama terhenyak dan kelu. There are too many to swallow. We just sit opposite one another last nite and let all truths revealed itself. Rasanya seperti kosong melompong. Seperti rumah kosong yang telah ditinggalkan penghuninya yang telah tinggal disana bertahun-tahun lamanya. Sehingga yang tinggal hanya keheningan dan kekosongan yang tampaknya akan berlangsung selamanya. Yang tinggal hanya kenangan-kenangan yang pernah mengisinya ruang-ruangnya.
Tapi toh, hidup itu terus berjalan apa pun yang terjadi dan rumah itu pun kemudian ditinggali orang lain, keluarga lain. Segera sesudahnya keramaian, kebahagiaan, kesedihan dan air mata mengisi setiap relung ruangnya. Perjalanan baru telah dimulai, hidup baru telah datang. Karena memang tak seharusnya rumah kosong tak berpenghuni dan tak seharusnya seseorang ditinggalkan tanpa tempat tinggal di pinggir jalan. Begitu juga aku, segala yang telah diungkapkan, segala kekosongan yang disebabkan oleh semua pengungkapan itu akan tinggal melompong selama beberapa waktu sebelum kembali terisi dengan hal-hal yang baru. Kehidupan baru. Cerita baru. Karena tak seharusnya jiwa ada tanpa kehidupan, walau kadang kehidupan tidak selalu menuntut ruang.