Archive for November 2007
Dan ruang itu pun kosong..
Semalam aku mencoba bicara dengan diriku. Mendengarkan apa yang ia bicarakan tanpa pretensi, tanpa kerangka pikiran bawaan. Hanya mendengar, cuma mendengar. Hasilnya? gak sempurna. Aku yang diriku ceritakan itu “tampak” absurd, “tampak” kabur dan gak jelas. Tapi nyata dan saangat nyaman berada bersamanya.
Yang terjadi tadi malam seperti pengungkapan diri yang sebenarnya yang setelahnya membuat kita sama-sama terhenyak dan kelu. There are too many to swallow. We just sit opposite one another last nite and let all truths revealed itself. Rasanya seperti kosong melompong. Seperti rumah kosong yang telah ditinggalkan penghuninya yang telah tinggal disana bertahun-tahun lamanya. Sehingga yang tinggal hanya keheningan dan kekosongan yang tampaknya akan berlangsung selamanya. Yang tinggal hanya kenangan-kenangan yang pernah mengisinya ruang-ruangnya.
Tapi toh, hidup itu terus berjalan apa pun yang terjadi dan rumah itu pun kemudian ditinggali orang lain, keluarga lain. Segera sesudahnya keramaian, kebahagiaan, kesedihan dan air mata mengisi setiap relung ruangnya. Perjalanan baru telah dimulai, hidup baru telah datang. Karena memang tak seharusnya rumah kosong tak berpenghuni dan tak seharusnya seseorang ditinggalkan tanpa tempat tinggal di pinggir jalan. Begitu juga aku, segala yang telah diungkapkan, segala kekosongan yang disebabkan oleh semua pengungkapan itu akan tinggal melompong selama beberapa waktu sebelum kembali terisi dengan hal-hal yang baru. Kehidupan baru. Cerita baru. Karena tak seharusnya jiwa ada tanpa kehidupan, walau kadang kehidupan tidak selalu menuntut ruang.
Sahabat itu…
Pernah gak sih loe merasa begitu terbawa oleh perasaan loe sendiri? Sehingga hal itu membuat loe bingung dan resah. Gw menemukan bahwa ternyata ada begitu banyak hal yang gw gak tahu tentang diri gw sendiri yang bahkan saat gw mengetahuinya pun gw merasa gak suka dengan apa yang gw temukan itu. Gw jadi inget sebuah kutipan di buku Do You Think What You Think You Think? – Jullian Baggini & Jeremy Stangroom: “I have opinions of my own—strong opinions—but I don’t always agree with them – George W. Bush”
Gw ternyata begitu keukeuh dan terpesona dengan yang namanya klasifikasi, label atau definisi umum. Sampai-sampai kalau gw mendapati diri gw sendiri out-of-label atau out-of-classification, gw berantem. Yes, berantem dengan diri gw sendiri. Rasanya gw masih jauh banget dari konsep yang namanya Menerima diri sendiri. Kok, gw begini? Kok, gw gak begitu? Kok, gw gak bisa nerima itu? Kok, gw bisa nerima ini? Kok, kok, bisa-bisanya gw begini?? Semuanya campur aduk jadi satu, gak jelas, akibatnya gw pun gak bisa mendefinisikan diri gw sendiri seperti yang gw mau. Kebayang gak sih, loe mesti mendefinisikan diri loe menurut apa adanya elo, sementara loe gak setuju dengan “ke apa-adaan elo” itu. Parah.
Saking begitu banyaknya hal, beberapa lebih parah karena mereka lebih krusial dan esensial, gw terhenyak dengan sebuah tulisan di sebuah blog, yaitu: Bersahabat dengan diri sendiri. Ini rasanya lebih gila lagi.
Sahabat, seperti apa sih mereka bentuknya? Seperti apa sih mereka akan bicara kepada kita? Seperti apa sih mereka akan memperlakukan kita?
Apa kira-kira begini: Bentuk mereka bisa bermacam-macam tapi yang pasti kamu akan merasa saangat nyaman ada bersama mereka. Kenapa? Karena penghakiman gak akan ada dalam mulut mereka, they’re just simply sit comfortably at your side, listening to your story attentively. Loe diam, mereka akan diam atau loe diam, mereka akan bercerita dengan antusias. Loe bicara, mereka pun diam atau loe bicara, mereka pun akan bicara menanggapi. U and him/her are simply meant to be together. Sharing the magnificent of life, exchanging stories, talking whatever it is worth to talk about. In your friendship, there’s no such a thing such as non-sense. Mereka akan bicara dengan lembut dan penuh perhatian sama kita. Kadang-kadang bersemangat, berapi-api karena senangnya. Kadang agak keras tapi tidak memaki atau mencemooh atau memandang rendah diri kita. Karena mereka mengenal kita, karena mereka menghargai kita. Terlebih dari segalanya adalah karena mereka ingin mengenal kita, selamanya.
Thereby, they won’t take us for granted karena mereka tahu dalam diri kita ada begitu banyak hal yang tersembunyi atau belum tampak dihadapan mereka bahkan dihadapan diri kita sendiri. Keingin untuk terus ‘mengenal’ atau memahami kita pun gak pernah surut. Mungkin karena mereka sendiri menyukai petualangan, mereka ikut berpetualang bersama kita, menemukan diri kita yang lain, yang baru, yang belum terungkap. Kadang kita menemukan emas, kadang perak, kadang sumber air, kadang barang rongsokan yang pernah kita pendam, kadang malah mungkin…sesuatu yang busuk yang sungguh busuk dan tak terduga ada disana. Mungkin setelahnya kita akan diam bertatapan mencari makna di ke empat mata, “ini apa?” tapi lalu saling merengkuh dalam air mata.
Sahabat akan memperlakukan kita dengan hormat karena kita sangat berarti untuk mereka. Namun terlebih adalah karena mereka menghormati diri mereka sendiri. Sahabat-sahabat akan bercerita bersisian atau berhadapan di tempat duduk yang sama. Mereka tidak akan meletakan yang satu dibawah kaki mereka. Atau seorang di belakang punggung yang lain saat mereka tengah bertengkar gusar.
Apa seperti itu sahabat? Apakah gw pernah memperlakukan diri sendiri seperti itu? Apa gw bisa menerima kemewahan seperti itu? Kemewahan seorang sahabat untuk diri sendiri?