Skip navigation

Kritik Terhadap Manusia Rasional yang Egoistik

Oleh Fransisca Hanum*

Pendahuluan

Pada 28 Juni 2011 lalu, harian International Herald Tribune menampilkan berita tentang sekumpulan insinyur manula di Jepang, yang dipelopori oleh Yasuteru Yamada berusia 82 tahun, menawarkan diri menjadi relawan untuk mengatasi kebocoran nuklir di reaktor nuklir Fukushima. Para warga Jepang mengganggap pekerjaan mengatasi kebocoran nuklir itu sebagai kotor, sulit dan berbahaya (kitanai, kitsui, kiken). Perbaikan reaktor nuklir yang bocor mengandung resiko yang tidak kecil. Paparan radiasi yang terlalu tinggi beresiko menyebabkan penyakit kanker. Oleh karena itulah tindakan para pensiunan insinyur ini dianggap tidak masuk akal. Bapak Yamada dan teman-temannya disebut sebagai selfless patriots, yang mengorbankan diri demi kebaikan bersama. Namun menurut salah satu insinyur manula yang bergabung, Nobuhiro Shiotani, sangkaan tersebut tidak tepat sasaran. Ia mengatakan bahwa, “Reaktor energi nuklir adalah anak pemikiran ilmuwan dan insinyur. Mereka telah menciptakan kekacauan ini, dan merekalah yang mesti membereskannya.”

Konsep manusia yang rasional dalam ilmu ekonomi adalah manusia yang berfokus pada tindakan yang memaksimalkan kepentingan-diri. Fakta bahwa masyarakat Jepang mengganggap tindakan para pensiunan insinyur tersebut tidak masuk akal mengindikasikan bahwa konsep rasionalitas dalam ilmu ekonomi tersebut telah jauh merasuk ke dalam konsepsi kita tentang siapa itu manusia yang rasional. Bagaimana ilmu ekonomi dapat menjelaskan tindakan Bapak Yamada dan teman-temannya tersebut? Sebab jika manusia adalah diri (self) yang egois, bagaimana mungkin mengharapkan kebaikan darinya? Lalu jika untuk berbuat baik manusia mesti menyangkal dirinya, apakah lalu orang tersebut menjadi tidak rasional? Dengan kata lain, apakah seorang selfless patriots adalah orang yang dungu? Tulisan ini mencoba melihat bagaimana konsepsi manusia rasional yang sempit tersebut dapat diperluas, sehingga ide kebaikan bersama dapat diakomodasi ke dalamnya.

Problema Manusia Rasional

Seorang ekonom bernama Francis Edgeworth dalam bukunya Mathematical Psychics yang diterbitkan tahun 1881, mengatakan bahwa “Prinsip Ekonomi yang pertama adalah bahwa setiap agen digerakkan hanya oleh kepentingan-dirinya.”1 Asumsi anthropologi filosofis dalam premis tersebut adalah manusia yang murni egois.2 Edgeworth merasa bahwa ia telah menetapkan prinsip “egoisme” sebagai dasar tingkah laku manusia, walaupun ia menerapkan prinsipnya tersebut dalam konteks aktivitas perang dan pembuatan kontrak,3 namun asumsi tersebut “telah bertahan dan terus berlanjut dalam banyak analisis ekonomi hingga hari ini.4

Prinsip pertama ekonomi tersebut diterapkan dalam konteks manusia yang membuat pilihan. Pilihan-pilihan diurutkan, lalu masing-masing diberi bobot nilai, dari terkecil sampai terbesar. Dengan model ini, manusia tidak bisa tidak akan terkurung pada cara berpikir “yang rasional adalah yang maksimal”. Seseorang hanya punya satu pilihan akhir, yaitu memaksimalkan keuntungan sendiri, atau meminimalkan keuntungan sendiri. Tentu saja seseorang yang meminimalkan keuntungan sendiri akan mendapat label irasional. Prinsip tersebut telah berkembang menjadi kriteria acuan manusia yang rasional. Amartya Sen mengatakan: “…penggunaan ganda tingkah laku maksimalisasi dalam ekonomi baik sebagai alat prediksi, maupun sebagai kriteria rasionalitas.”5

Pada tahun 1638 seorang matematikawan bernama Pierre de Fermat, menulis sebuah manuskrip tentang fungsi maksimalisasi dan minimalisasi6. Dalam manuskrip tersebut, De Fermat menemukan prinsip untuk mengukur waktu tercepat, yang mesti dilewati cahaya, untuk sampai pada satu titik ke titik yang lain. Penemuan fungsi maksimalisasi ini sedemikian penting sehingga diadopsi oleh berbagai macam ilmu seperti ilmu alam dan ilmu sosial, termasuk ilmu ekonomi. Dalam matematika, fungsi maksimalisasi tersebut meneliti perilaku entitas yang tak-berkesadaran (dalam contoh De Fermat, cahaya), sehingga dalam penelitian tersebut tidak terlibat adanya unsur kehendak dalam tercapainya nilai maksimal ataupun minimal.

Namun hal yang berbeda diterapkan dalam ilmu ekonomi. Fungsi maksimalisasi diterapkan untuk meneliti tingkah laku manusia, dalam hal ini pilihan-pilihannya. Dalam membuat pilihan, manusia diandaikan memilih yang paling memaksimalkan hasratnya (atau utilitasnya). Pilihan melibatkan kehendak untuk memilih. Jika seseorang memilih Apple Ipad ketimbang Samsung Galaxy Tab misalnnya, pilihan aktual tersebut dianggap telah menunjukkan preferensi orang tersebut. Tindakan individu ini dalam ilmu ekonomi disebut tindakan yang rasional. Jika suatu hari orang yang sama memilih Samsung Galaxy Tab ketimbang Apple Ipad, orang tersebut dipandang telah jatuh ke dalam inkonsistensi.

Maksimalisasi utilitas dan konsistensi pilihan adalah 2 hal yang kontradiktif. Maksimalisasi utilitas hanya dapat dicapai melalui inkonsistensi pilihan.7 Sedangkan konsistensi pilihan tidak akan mencapai maksimalisasi utilitas. Tampak ada cacat yang serius dalam konsepsi ilmu ekonomi tentang rasionalitas. Maksimalisasi utilitas dianggap sebagai pemrediksi pilihan aktual individu, sekaligus sebagai kriteria penilaian atas rasional tidaknya sebuah pilihan. Teori ini disebut sebagai Teori Pilihan Rasional (Rational Choice Theory)8. Rasio hanya menjadi instrumen untuk membuat pilihan.

Konsepsi Manusia Rasional yang Diperluas

Menurut Jennifer Roback Morse, manusia yang rasional memiliki 2 (dua) komponen, yaitu “manusia rasional sebagai kalkulator” dan “manusia rasional sebagai seorang filsuf”.9 Manusia rasional sebagai kalkulator, bertindak berdasarkan pilihan-pilihan yang terberi padanya. “Orang tersebut bertindak seolah-olah ia tahu seberapa banyak kenikmatan dan kesengsaraan yang akan ia dapat dari masing-masing pilihan.”10 Sedangkan manusia rasional sebagai seorang filsuf “menyadari bahwa pengetahuannya akan preferensinya sendiri tidak lengkap, sehingga ia mungkin saja secara tidak akurat mengantisipasi perasaan yang akan ia peroleh dari sebuah benda atau aktivitas tertentu.”11

Melalui komponen yang pertama, manusia rasional sangat tahu akan apa yang ia inginkan. Ia tahu hal apa yang paling dapat memaksimalkan fungsi utilitasnya (utility function).12 Namun saat ia membuat kesalahan dan menjadi kecewa akan pilihannya, yang sebelumnya ia sangat yakini itu, ia akan merenungi pilihan yang telah ia buat dan konsekuensi yang ia dapat. Dalam permenungan ini ia menggunakan komponen reflektifnya, sebagai manusia filsuf. Ia meninjau ulang pilihan-pilihan hidupnya, apa yang sebenarnya ia anggap bernilai. “Proses inilah yang membuat kita sepenuhnya manusia.”13 Rasio yang hanya instrumental (komponen kalkulator) tidak akan mampu membawa manusia mencapai kebahagiaan sejati. Immanuel Kant mengatakan: “…semakin nalar dikembangkan secara sengaja untuk mengabdikan dirinya pada kenikmatan hidup dan kebahagiaan, semakin manusia jauh dari kepuasan yang sejati.”14

Menurut Immanuel Kant, “fungsi rasio (nalar) adalah memproduksi kehendak yang baik pada dirinya sendiri dan bukan kebaikan yang hanya merupakan alat semata.”15 Dengan rasio manusia menentukan sendiri nilai-nilainya, untuk kemudian mengikatkan diri pada nilai-nilai tersebut. Pengikatan diri inilah yang oleh Kant disebut kewajiban. Jadi rasio tidak hanya digunakan sebagai instrumen untuk menentukan pilihan, namun juga menentukan daftar pilihannya. Ini yang disebut Sen “rangking of rankings”16. Dalam kasus kebocoran reaktor nuklir di atas, tindakan para pensiunan insinyur Jepang tersebut rasional. Bagi mereka adalah wajib bagi para insinyur untuk membereskan kekacauan yang telah mereka perbuat.

Kehormatan diri sebagai keutamaan, menurut Adam Smith adalah salah satu alasan seseorang berbuat baik. “Cinta akan apa yang terhormat dan mulia”17 menghindarkan seseorang dari “sasaran cemooh dan kebencian”18 masyarakat. Hal itu bisa menjelaskan alasan Bapak Shiotani yang merasa harga dirinya sebagai ilmuwan terancam dicemooh, akibat ketidakmampuan para ilmuwan nuklir mengatasi reaktor nuklir yang bocor. Menurut Smith, orang berangkat dari self-love demi menggapai keutamaan, namun diri (self) di sini berbeda dengan diri yang hanya ingin memaksimalkan kepentingan-dirinya, atau fungsi utilitasnya. “Diri” di sini adalah “diri” dalam keterkaitannya dengan masyarakat, “manusia selalu membutuhkan kerjasama dan bantuan banyak orang”.19

Karena “diri” selalu berada dalam relasinya dengan “orang lain”, maka konsepsi manusia rasional yang egoistik sempit tidaklah memadai untuk menjelaskan berbagai fenomena tingkah laku manusia dalam masyarakat. Dalam hubungannya antara “diri” dan “orang lain” ini, Smith membedakan cinta-diri dan simpati. Simpati adalah kemampuan kita merasakan perasaan orang lain, karena “kita tak memiliki pengalaman langsung atas apa yang orang lain rasakan”20. Oleh karena itu “hanya melalui imajinasi saja kita dapat membentuk konsepsi atas apa yang orang lain rasakan.”21 “Simpati, bagaimanapun juga, tak dapat, dalam pengertian apapun, dianggap sebagai prinsip yang egois (selfish).”22 Sedangkan cinta-diri mengacu pada perasaan diri sendiri, hal ini karena kita memiliki akses langsung terhadap perasaan kita sendiri. Cinta-diri adalah motivasi kepentingan-diri yang sempit (egoistik).

Dengan konsepsi manusia rasional yang lebih luas ini, ide kebaikan bersama menjadi mudah diakomodasi. Melihat kasus kebocoran nuklir di atas, alasan utama tindakan para pensiunan insinyur Jepang tersebut adalah bahwa “hal ini akan memberi kebaikan pada masyarakat jika generasi yang lebih tua mengambil pekerjaan itu, sebab kami akan mendapatkan dampak cedera yang lebih sedikit dengan bekerja di sana.”23 Dengan sel-sel tubuh yang lebih tua, pertumbuhan penyakit kanker akan berjalan lambat. Sehingga tindakan para pensiunan tersebut akan menyelamatkan para insinyur muda Jepang dari berbagai dampak yang sangat buruk akibat paparan radiasi atas sel-sel muda mereka. Menurut mereka lebih baiklah bagi sebuah negara untuk memiliki lebih banyak anak muda ketimbang para manula. Walaupun demikian tindakan mereka tidak dapat disebut tindakan bunuh diri.

Sebagai kesimpulan, manusia rasional tidak dapat direduksi ke dalam individu soliter yang egoistik, dan terlepas dari lingkungan sosialnya, yang menjadi sumber rujukan nilai-nilai moral baginya. Tindakan memilih bagi individu melibatkan banyak sekali motif. Pengejaran kepentingan-diri dan maksimalisasi utilitas hanyalah salah satunya. Situasi sosial memiliki peran yang teramat penting dalam mempengaruhi pilihan-pilihan seseorang. Sebab bagaimanapun juga kegiatan bernalar adalah sebuah tindakan berdimensi sosial.

***

*Mahasiswa pascasarjana Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta

1Sebagaimana dikutip oleh Amartya Sen dalam esainya berjudul Rational Fools: A Critique of the Behavioural Foundations of Economic Theory, 1977, hlm. 1

2Ibid., hlm. 320

3Ibid., hlm. 318

4Amartya Sen menuliskan kritik ini dalam esainya Rational Fools… yang terbit tahun 1977. Tapi bahkan hingga saat ini pandangan umum tentang manusia ekonomi sebagai manusia yang semata memaksimalkan kepentingan-diri masih berlangsung.

5Amartya Sen, The Idea of Justice, 2009, Belknap Harvard Press, Cambridge, hlm. 175

6Lih. The Idea…,2009, hlm. 174

7Amartya Sen, Rational Fools…,1977, hlm. 322

8Ibid., hlm. 323

9Jennifer Roback Morse, Who is Rational Economic Man? dalam Social Philosophy & Policy, vol. 14, No. 1, 1997, hlm. 182 – 183

10Ibid., Morse menulis: “The rational person as calculator acts on the basis of given preferences. That is, the person acts as if he knows how much pleasure and pain he will receive from each possible action.” hlm. 182

11Ibid., Morse menulis: “…realizes that his knowledge of his own preferences is incomplete, in that he may inaccurately anticipate how a good or activity will make him feel.”, hlm. 182

12Ibid., hlm. 183

13Ibid., Morse menulis: “This is the process that makes us most fully human.” hlm. 184

14Immanuel Kant menulis: “…the more a cultivated reason deliberately devotes itself to the enjoyment of life and happines, the more the man falls short of true contentment…” dalam Foundations of the Metaphysics of Morals, Section I, §§ 395 – 396. Sebagaimana dicetak dalam Kelly Rogers, Self-Interest: An Anthology of Philosophical Perspective, 1997, Routledge, New York, hlm. 161

15Ibid.,”reason’s proper function must be to produce a will good in itself and not one good merely as a means..”

16Amatya Sen, Rational Fools, 1997, hlm. 341

17Adam Smith, The Theory of Moral Sentiments,Part III, Section ii, Ch. III sebagaimana dicetak dalam Kelly Rogers, Self-Interest…,1997, hlm. 153

18Ibid., sebagai mana dicetak dalam Ibid., hlm 153

19Adam Smith, An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations, Book I, Ch. ii. Sebagaimana dicetak dalam Kelly Rogers, Self-Interest…, 1997, hlm. 157

20Ibid., Part I, Section I, Ch. I. Sebagai mana dicetak dalam Ibid., hlm. 149

21Ibid., sebagaimana dicetak dalam Ibid., hlm. 149

22Ibid., Part VII, Sect. Iii, Ch. I, Sebagaimana dicetak dalam Ibid., hlm. 150

23Seperti diungkapkan Bapak Yamada kepada International Herald Tribune “It would benefit society if we the older generation too the job because we will get less damage from working there.”

Apa itu realita? Apakah itu sesuatu yang dapat kita pegang? Sesuatu yang dapat kita lihat? Baiklah, meja ini nyata, namun bagaimana dengan apa yang kita rasakan? Rasa marah, rasa sedih, rasa senang, bahagia, getir. Adakah ini juga nyata? Lalu bagaimana dengan kesadaran kita? Apakah itu juga nyata? Topik itulah yang akan menjadi tema refleksi dalam tulisan ini “Apakah realita itu sesuatu yang ada di luar sana atau apa yang ada di dalam pikiran kita?”

Menurut John Locke (1632 – 1704) pengetahuan kita tentang realita datang melalui pengalaman. Pikiran seorang manusia pada awalnya adalah “tabula rasa” yaitu, seperti kertas kosong yang melalui pengalamannya akan dunia luar dihasilkan pengetahuan tentang realita. Ia menolak akan adanya ide-ide bawaan yang menjadi sumber pengetahuan manusia sebagaimana digagas oleh kaum rasionalis. Locke membagi realita menjadi dua, yaitu realita primer dan sekunder. Realita primer adalah hal-hal yang sifatnya tetap dan melekat pada objek, yaitu hal-hal yang bisa diukur dari objek misalnya beratnya buah apel dan bentuknya buah apel sedangkan realita sekunder adalah kualitas yang dipersepsikan manusia terhadap objek dan sifatnya berubah-ubah seperti warna merah pada apel dan  bau harum pada apel. Manusia menggabungkan kedua realita primer dan sekunder itu untuk membentuk pengetahuan tentang buah apel. Buat Locke kebenaran yang hakiki dari sebuah idea terdapat di dalam realita primernya, ia mengakui adanya realita objektif yang terlepas dari persepsi manusia terhadap objek.

Namun berbeda dengan Locke, George Berkeley (1685 – 1753) berpendapat bahwa yang “ada” adalah idea dan kesadaran manusia yang mempersepsikannya. Ia menentang materialisme. Dalam hal ini Berkeley membuat 3 dakuan: pertama, bahwa objek pengetahuan manusia adalah idea; kedua, ada kesadaran manusia (disebut juga pikiran, jiwa, spirit atau “aku”) yang mempersepsikan idea; ketiga, eksistensi idea adalah dipersepsikan. Sehingga warna merah pada apel perlu untuk dilihat, bau harum pada apel perlu untuk dihirup, rasa manis pada apel perlu untuk dicicip, bentuk bulat pada apel perlu untuk dilihat barulah apel tersebut menjadi nyata. Menurutnya Esse est percipi: to be is to be perceived.

Di sini ia dengan jelas menentang anggapan filsuf lain yang menyebutkan bahwa sebuah benda dapat memiliki eksistensi di luar pikiran yang mempersepsikannya. Berkeley seorang anti-realis. Dia berargumen bahwa “Apakah objek itu jika bukan sesuatu yang dipersepsikan manusia? Dan apakah yang kita persepsikan itu selain idea dan sensasi inderawi kita sendiri?”

Namun bagaimana dengan idea yang digagas Plato bahwa idea (forma) tidak sama dengan objek yang dicerap indera, bahwa idea-idea kita itu hanyalah berupa fotocopy dari objek yang sebenarnya? Untuk hal ini Berkeley akan berargumen, “Bagaimana sebuah idea bisa merupakan idea yang lain? Adakah idea bau yang tidak dapat dibaui? Idea warna yang tidak dapat dilihat? Idea rasa yang tidak dapat dirasa? Adakah idea warna yang keras, bau atau berisik?”

Mungkin kita dapat sedikit curiga bahwa apa yang dimaksud Berkeley dengan idea yang eksistensinya bergantung pada kesadaran yang mempersepsikannya itu hanyalah realita sekunder milik Locke. Segala properti objek yang dapat diukur tentu tidak tergantung pada yang mempersepsikannya. Namun dapatkah sesuatu diukur jika tak berwarna? Dapatkah sesuatu diukur jika tak dapat dipegang? Bagaimana bisa kualitas primer Locke yang tidak bergantung pada pikiran yang mempersepsikannya bergantung pada kualitas sekunder yang tergantung pada pikiran? Jika demikian maka kedua pembagian realita Locke tersebut runtuh karena eksistensi keduanya bergantung pada pikiran/kesadaran yang mempersepsikan mereka.

Seorang filsuf kognitif masa kini, Donald D. Hoffman menulis dalam situs www.edge.org bahwa ia percaya bahwa hanya kesadaran dan isinya saja yang “ada”. Ruang-waktu, materi dan medan tak pernah menjadi penghuni fundamental alam semesta melainkan sudah sejak awal merupakan isi dari kesadaran manusia dimana eksistensi mereka pun bergantung pada kesadaran kita.

Melihat kesadaran kita demikian fundamental, dapatlah kita bertanya “Apakah kesadaran itu?” Menurut Berkeley, kita tak pernah dapat memiliki idea kesadaran (atau pikiran, jiwa, spirit atau “aku”) karena kesadaran bersifat aktif sedangkan idea bersifat pasif. Namun melihat dakuan Berkeley bahwa kesadaran adalah yang mempersepsikan idea maka selama manusia dapat menunjuk bahwa kesadarannya bukanlah idea yang ia persepsikan maka ia sudah mengetahui kesadarannya. Dalam hal ini hakikat kesadaran hanya dapat diketahui relatif pada idea.

Namun dari mana munculnya kesadaran ini? Apakah dari otak kita? Jika kesadaran muncul dari objek material yang eksistensinya bergantung pada kesadaran yang mempersepsikannya tidakkah itu menjadi putaran paradoks? Menjadi sulit halnya untuk mempertahankan immaterialitas Berkeley disini. Mungkinkah kesadaran itu adalah sebuah aktivitas mempersepsikan dirinya sendiri sebagaimana digagas oleh seorang filsuf kognitif masa kini Douglas Hofstadter? Hal ini seperti tindakan mengarahkan kaca pada sebuah kaca maka akan muncul pola spiral dari gambar kaca yang terus – menerus. Kesadaran adalah sebuah pola.

Begitu rumit hal realita ini. Mungkin kita dapat sepakat bahwa memang ada realita fisik dan ada realita mental namun bagaimana keduanya saling berhubungan kita perlu menelusuri kesadaran lebih jauh lagi. Manusia ada di dunia ini tidak semata-mata untuk “ada” namun ia perlu memahami dan memberi makna, seperti ungkapan seorang yang didakwa cacat mental “to live, is not merely to exist”.

About this talk:

Speaking at LIFT 2007, Sugata Mitra talks about his Hole in the Wall project. Young kids in this project figured out how to use a PC on their own — and then taught other kids. He asks, what else can children teach themselves?

I personally agree with the speaker that high technology pilot project should not be the privilege of the rich school or urban society only, which usually seen as the ideal environment for introducing such technology, but rural, country area and poor society could also be the right target, if not best,  for such pilot project.

ps: should the video doesn’t work, please click this link at ted.

“How do you study Philosophy?”

This is my questions after weeks of continuing headache.

Then I find this answer during hallucination.

“Just like how you eat an elephant. One bite at a time.”

“First, chew the language (English) slowly, because otherwise it is going to kill you.”

“Second, think like an actor, because following other people’s logic (mind) is exhausting, if not frustrating.”

“Third, smiling. You just won an Oscar”.

“Forth, wake up! You have a lot of homeworks to do!”

In a 2004 talk at the European Gradate School, Derrida again discusses “forgiveness” – for him “pure forgiveness” can only be given by a “singular, irreplaceable person” to another singularity (it cannot emanate from a government) and involves two possibilities: forgiving the person who wronged another or forgiving that person’s wrongful acts … pure forgiveness concerns our ability to forgive the other even when that individual has not repented, asked for forgiveness or acknowledged responsibility – Derrida calls this type of forgiveness “impossible” – but, the only forgiveness “worthy of the name” … customary (or conditional) forgiving, involving exchange – that the other, for example, acknowledges wrongdoing – is not true forgiveness … for Derrida, we must “forgive the unforgivable” – we have to allow the (that) “other” in me, not my usual self governed by reciprocity, to actually bestow proper forgiveness …http://www.youtube.com/watch?v=FuL6HlLSzyc

Dalam cerita ini, Plato menunjukan bahwa ide adalah cetakan universal atas suatu hal. Ide tidak menunjuk pada suatu hal yang partikular, dalam hal ini ide ranjang misalnya tidak menunjuk pada tipe ranjang tertentu melainkan ranjang yang ideal, yang berdasarkan ide ranjang inilah nanti para pembuat ranjang membuat ranjang tertentu. Disini Plato mengatakan bahwa ide ranjang dibuat oleh Tuhan, dan secara esensial hanya ada 1 (satu) saja ide ranjang di alam semesta ini.
Disini dalam usahanya untuk menjawab pertanyaan tentang siapakah peniru, Plato menceritakan hal ini: Seorang artis disebut sebagai pembuat segala hal yang dikerjakan pekerja lain. Ia mampu membuat bunga, binatang dan segala hal yang ada di bumi dan di surga, bahkan ia mampu membuat dewa-dewa. Dan itu dapat dilakukannya dengan cepat, seperti memutar kaca kesegala arah sehingga segala hal tampak nyata di layar kaca. Namun hal-hal tersebut tidaklah benar (tidak nyata), hanya tampaknya saja nyata. Sehingga artis atau pelukis tersebut tidak dapat dikatakan bahwa ia mengatakan kebenaran.
Berdasarkan pendekatan diatas, Plato mulai menjelaskan tentang siapakah peniru itu. Terdapatlah 3 (tiga) jenis ranjang: 1 (satu) yang ada di alam semesta dan hanya satu, lalu yang lain lagi adalah hasil karya pengerajin kayu, dan yang satunya lagi adalah hasil karya pelukis.
Tuhan, yang entah berdasarkan pilihan atau keniscayaan, membuat 1 (satu) saja ranjang di semesta ini dan hanya 1 (satu) saja. Dan itu adalah ranjang yang paling ideal. Namun ciptaan ini tidak menunjuk pada ranjang tertentu karena Tuhan adalah pembuat asli dari ranjang yang asli. Ranjang yang ideal.
Sementara sang pengerajin kayu adalah pembuat ranjang tertentu. Dan sang pelukis karena tidak bisa disebut sebagai pembuat ranjang, maka dialah yang disebut si peniru. Seperti halnya seorang penyair yang juga adalah peniru, maka para peniru terbuang 3 (tiga) kali jauhnya dari kebenaran. Sang pelukis sendiri hanya meniru hasil karya artis lain, dan itu pun hanya meniru sebagaimana sesuatu itu tampak, bukan sebagaimana sesuatu itu apa adanya. Karena terdapat banyak sudut pandang untuk melihat ranjang, yang menyebabkan ranjang tersebut menjadi tampak berbeda-beda, namun dalam kenyataan ranjang tersebut tidak berbeda.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa para peniru berada sangat jauh dari kebenaran. Hal ini dapat terjadi karena mereka hanya menyentuh bagian kecil saja dari kebenaran dan kebenaran yang kecil tersebut membentuk citra (gambar). Sebagai contoh, seorang pelukis dapat melukis pengerajin kayu walaupun ia tidak tahu apa-apa tentang hasil karya sang pengerajin kayu. Dan jika ia adalah pelukis yang hebat, ia dapat memperdaya anak-anak atau orang yang berpikiran sederhana bahwa mereka telah melihat pengerajin kayu yang sebenarnya.

Dalam cerita ini, Plato menunjukan bahwa ide adalah cetakan universal atas suatu hal. Ide tidak menunjuk pada suatu hal yang partikular, dalam hal ini ide ranjang misalnya tidak menunjuk pada tipe ranjang tertentu melainkan ranjang yang ideal, yang berdasarkan ide ranjang inilah nanti para pembuat ranjang membuat ranjang tertentu. Disini Plato mengatakan bahwa ide ranjang dibuat oleh Tuhan, dan secara esensial hanya ada 1 (satu) saja ide ranjang di alam semesta ini.

Disini dalam usahanya untuk menjawab pertanyaan tentang siapakah peniru, Plato menceritakan hal ini: Seorang artis disebut sebagai pembuat segala hal yang dikerjakan pekerja lain. Ia mampu membuat bunga, binatang dan segala hal yang ada di bumi dan di surga, bahkan ia mampu membuat dewa-dewa. Dan itu dapat dilakukannya dengan cepat, seperti memutar kaca kesegala arah sehingga segala hal tampak nyata di layar kaca. Namun hal-hal tersebut tidaklah benar (tidak nyata), hanya tampaknya saja nyata. Sehingga artis atau pelukis tersebut tidak dapat dikatakan bahwa ia mengatakan kebenaran.

Berdasarkan pendekatan diatas, Plato mulai menjelaskan tentang siapakah peniru itu. Terdapatlah 3 (tiga) jenis ranjang: 1 (satu) yang ada di alam semesta dan hanya satu, lalu yang lain lagi adalah hasil karya pengerajin kayu, dan yang satunya lagi adalah hasil karya pelukis.

Tuhan, yang entah berdasarkan pilihan atau keniscayaan, membuat 1 (satu) saja ranjang di semesta ini dan hanya 1 (satu) saja. Dan itu adalah ranjang yang paling ideal. Namun ciptaan ini tidak menunjuk pada ranjang tertentu karena Tuhan adalah pembuat asli dari ranjang yang asli. Ranjang yang ideal.

Sementara sang pengerajin kayu adalah pembuat ranjang tertentu. Dan sang pelukis karena tidak bisa disebut sebagai pembuat ranjang, maka dialah yang disebut si peniru. Seperti halnya seorang penyair yang juga adalah peniru, maka para peniru terbuang 3 (tiga) kali jauhnya dari kebenaran. Sang pelukis sendiri hanya meniru hasil karya artis lain, dan itu pun hanya meniru sebagaimana sesuatu itu tampak, bukan sebagaimana sesuatu itu apa adanya. Karena terdapat banyak sudut pandang untuk melihat ranjang, yang menyebabkan ranjang tersebut menjadi tampak berbeda-beda, namun dalam kenyataan ranjang tersebut tidak berbeda.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa para peniru berada sangat jauh dari kebenaran. Hal ini dapat terjadi karena mereka hanya menyentuh bagian kecil saja dari kebenaran dan kebenaran yang kecil tersebut membentuk citra (gambar). Sebagai contoh, seorang pelukis dapat melukis pengerajin kayu walaupun ia tidak tahu apa-apa tentang hasil karya sang pengerajin kayu. Dan jika ia adalah pelukis yang hebat, ia dapat memperdaya anak-anak atau orang yang berpikiran sederhana bahwa mereka telah melihat pengerajin kayu yang sebenarnya.

This is my first attempt to write story for kids and publish it online.


Am I forgiven for who I am?

Or what I did?

Do you know that one way to know the closeness of someone in relation to others is through tears?

Do you ever wonder why would you cry for someone, but not for others over the same thing?

Have you ever think of why someone can hurt you, but others just can’t, no mater how cruel they might be to you?

You know, you can only get hurt by someone you care so much.

And how special that someone means to you is measured by cry.

Can she/he bring you into tears?

You might hide your tears to some, but for others, you just couldn’t help it.

It just hurts..

Distance. We all need distance.

Space.  We all need space.

Just like two words apart by space, which make them  readable and give meaning.

Like a distance we put between emotional rage and logical view?

After all, isn’t it space that contain our planet within?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.