Kritik Terhadap Manusia Rasional yang Egoistik
Oleh Fransisca Hanum*
Pendahuluan
Pada 28 Juni 2011 lalu, harian International Herald Tribune menampilkan berita tentang sekumpulan insinyur manula di Jepang, yang dipelopori oleh Yasuteru Yamada berusia 82 tahun, menawarkan diri menjadi relawan untuk mengatasi kebocoran nuklir di reaktor nuklir Fukushima. Para warga Jepang mengganggap pekerjaan mengatasi kebocoran nuklir itu sebagai kotor, sulit dan berbahaya (kitanai, kitsui, kiken). Perbaikan reaktor nuklir yang bocor mengandung resiko yang tidak kecil. Paparan radiasi yang terlalu tinggi beresiko menyebabkan penyakit kanker. Oleh karena itulah tindakan para pensiunan insinyur ini dianggap tidak masuk akal. Bapak Yamada dan teman-temannya disebut sebagai selfless patriots, yang mengorbankan diri demi kebaikan bersama. Namun menurut salah satu insinyur manula yang bergabung, Nobuhiro Shiotani, sangkaan tersebut tidak tepat sasaran. Ia mengatakan bahwa, “Reaktor energi nuklir adalah anak pemikiran ilmuwan dan insinyur. Mereka telah menciptakan kekacauan ini, dan merekalah yang mesti membereskannya.”
Konsep manusia yang rasional dalam ilmu ekonomi adalah manusia yang berfokus pada tindakan yang memaksimalkan kepentingan-diri. Fakta bahwa masyarakat Jepang mengganggap tindakan para pensiunan insinyur tersebut tidak masuk akal mengindikasikan bahwa konsep rasionalitas dalam ilmu ekonomi tersebut telah jauh merasuk ke dalam konsepsi kita tentang siapa itu manusia yang rasional. Bagaimana ilmu ekonomi dapat menjelaskan tindakan Bapak Yamada dan teman-temannya tersebut? Sebab jika manusia adalah diri (self) yang egois, bagaimana mungkin mengharapkan kebaikan darinya? Lalu jika untuk berbuat baik manusia mesti menyangkal dirinya, apakah lalu orang tersebut menjadi tidak rasional? Dengan kata lain, apakah seorang selfless patriots adalah orang yang dungu? Tulisan ini mencoba melihat bagaimana konsepsi manusia rasional yang sempit tersebut dapat diperluas, sehingga ide kebaikan bersama dapat diakomodasi ke dalamnya.
Problema Manusia Rasional
Seorang ekonom bernama Francis Edgeworth dalam bukunya Mathematical Psychics yang diterbitkan tahun 1881, mengatakan bahwa “Prinsip Ekonomi yang pertama adalah bahwa setiap agen digerakkan hanya oleh kepentingan-dirinya.”1 Asumsi anthropologi filosofis dalam premis tersebut adalah manusia yang murni egois.2 Edgeworth merasa bahwa ia telah menetapkan prinsip “egoisme” sebagai dasar tingkah laku manusia, walaupun ia menerapkan prinsipnya tersebut dalam konteks aktivitas perang dan pembuatan kontrak,3 namun asumsi tersebut “telah bertahan dan terus berlanjut dalam banyak analisis ekonomi hingga hari ini.4
Prinsip pertama ekonomi tersebut diterapkan dalam konteks manusia yang membuat pilihan. Pilihan-pilihan diurutkan, lalu masing-masing diberi bobot nilai, dari terkecil sampai terbesar. Dengan model ini, manusia tidak bisa tidak akan terkurung pada cara berpikir “yang rasional adalah yang maksimal”. Seseorang hanya punya satu pilihan akhir, yaitu memaksimalkan keuntungan sendiri, atau meminimalkan keuntungan sendiri. Tentu saja seseorang yang meminimalkan keuntungan sendiri akan mendapat label irasional. Prinsip tersebut telah berkembang menjadi kriteria acuan manusia yang rasional. Amartya Sen mengatakan: “…penggunaan ganda tingkah laku maksimalisasi dalam ekonomi baik sebagai alat prediksi, maupun sebagai kriteria rasionalitas.”5
Pada tahun 1638 seorang matematikawan bernama Pierre de Fermat, menulis sebuah manuskrip tentang fungsi maksimalisasi dan minimalisasi6. Dalam manuskrip tersebut, De Fermat menemukan prinsip untuk mengukur waktu tercepat, yang mesti dilewati cahaya, untuk sampai pada satu titik ke titik yang lain. Penemuan fungsi maksimalisasi ini sedemikian penting sehingga diadopsi oleh berbagai macam ilmu seperti ilmu alam dan ilmu sosial, termasuk ilmu ekonomi. Dalam matematika, fungsi maksimalisasi tersebut meneliti perilaku entitas yang tak-berkesadaran (dalam contoh De Fermat, cahaya), sehingga dalam penelitian tersebut tidak terlibat adanya unsur kehendak dalam tercapainya nilai maksimal ataupun minimal.
Namun hal yang berbeda diterapkan dalam ilmu ekonomi. Fungsi maksimalisasi diterapkan untuk meneliti tingkah laku manusia, dalam hal ini pilihan-pilihannya. Dalam membuat pilihan, manusia diandaikan memilih yang paling memaksimalkan hasratnya (atau utilitasnya). Pilihan melibatkan kehendak untuk memilih. Jika seseorang memilih Apple Ipad ketimbang Samsung Galaxy Tab misalnnya, pilihan aktual tersebut dianggap telah menunjukkan preferensi orang tersebut. Tindakan individu ini dalam ilmu ekonomi disebut tindakan yang rasional. Jika suatu hari orang yang sama memilih Samsung Galaxy Tab ketimbang Apple Ipad, orang tersebut dipandang telah jatuh ke dalam inkonsistensi.
Maksimalisasi utilitas dan konsistensi pilihan adalah 2 hal yang kontradiktif. Maksimalisasi utilitas hanya dapat dicapai melalui inkonsistensi pilihan.7 Sedangkan konsistensi pilihan tidak akan mencapai maksimalisasi utilitas. Tampak ada cacat yang serius dalam konsepsi ilmu ekonomi tentang rasionalitas. Maksimalisasi utilitas dianggap sebagai pemrediksi pilihan aktual individu, sekaligus sebagai kriteria penilaian atas rasional tidaknya sebuah pilihan. Teori ini disebut sebagai Teori Pilihan Rasional (Rational Choice Theory)8. Rasio hanya menjadi instrumen untuk membuat pilihan.
Konsepsi Manusia Rasional yang Diperluas
Menurut Jennifer Roback Morse, manusia yang rasional memiliki 2 (dua) komponen, yaitu “manusia rasional sebagai kalkulator” dan “manusia rasional sebagai seorang filsuf”.9 Manusia rasional sebagai kalkulator, bertindak berdasarkan pilihan-pilihan yang terberi padanya. “Orang tersebut bertindak seolah-olah ia tahu seberapa banyak kenikmatan dan kesengsaraan yang akan ia dapat dari masing-masing pilihan.”10 Sedangkan manusia rasional sebagai seorang filsuf “menyadari bahwa pengetahuannya akan preferensinya sendiri tidak lengkap, sehingga ia mungkin saja secara tidak akurat mengantisipasi perasaan yang akan ia peroleh dari sebuah benda atau aktivitas tertentu.”11
Melalui komponen yang pertama, manusia rasional sangat tahu akan apa yang ia inginkan. Ia tahu hal apa yang paling dapat memaksimalkan fungsi utilitasnya (utility function).12 Namun saat ia membuat kesalahan dan menjadi kecewa akan pilihannya, yang sebelumnya ia sangat yakini itu, ia akan merenungi pilihan yang telah ia buat dan konsekuensi yang ia dapat. Dalam permenungan ini ia menggunakan komponen reflektifnya, sebagai manusia filsuf. Ia meninjau ulang pilihan-pilihan hidupnya, apa yang sebenarnya ia anggap bernilai. “Proses inilah yang membuat kita sepenuhnya manusia.”13 Rasio yang hanya instrumental (komponen kalkulator) tidak akan mampu membawa manusia mencapai kebahagiaan sejati. Immanuel Kant mengatakan: “…semakin nalar dikembangkan secara sengaja untuk mengabdikan dirinya pada kenikmatan hidup dan kebahagiaan, semakin manusia jauh dari kepuasan yang sejati.”14
Menurut Immanuel Kant, “fungsi rasio (nalar) adalah memproduksi kehendak yang baik pada dirinya sendiri dan bukan kebaikan yang hanya merupakan alat semata.”15 Dengan rasio manusia menentukan sendiri nilai-nilainya, untuk kemudian mengikatkan diri pada nilai-nilai tersebut. Pengikatan diri inilah yang oleh Kant disebut kewajiban. Jadi rasio tidak hanya digunakan sebagai instrumen untuk menentukan pilihan, namun juga menentukan daftar pilihannya. Ini yang disebut Sen “rangking of rankings”16. Dalam kasus kebocoran reaktor nuklir di atas, tindakan para pensiunan insinyur Jepang tersebut rasional. Bagi mereka adalah wajib bagi para insinyur untuk membereskan kekacauan yang telah mereka perbuat.
Kehormatan diri sebagai keutamaan, menurut Adam Smith adalah salah satu alasan seseorang berbuat baik. “Cinta akan apa yang terhormat dan mulia”17 menghindarkan seseorang dari “sasaran cemooh dan kebencian”18 masyarakat. Hal itu bisa menjelaskan alasan Bapak Shiotani yang merasa harga dirinya sebagai ilmuwan terancam dicemooh, akibat ketidakmampuan para ilmuwan nuklir mengatasi reaktor nuklir yang bocor. Menurut Smith, orang berangkat dari self-love demi menggapai keutamaan, namun diri (self) di sini berbeda dengan diri yang hanya ingin memaksimalkan kepentingan-dirinya, atau fungsi utilitasnya. “Diri” di sini adalah “diri” dalam keterkaitannya dengan masyarakat, “manusia selalu membutuhkan kerjasama dan bantuan banyak orang”.19
Karena “diri” selalu berada dalam relasinya dengan “orang lain”, maka konsepsi manusia rasional yang egoistik sempit tidaklah memadai untuk menjelaskan berbagai fenomena tingkah laku manusia dalam masyarakat. Dalam hubungannya antara “diri” dan “orang lain” ini, Smith membedakan cinta-diri dan simpati. Simpati adalah kemampuan kita merasakan perasaan orang lain, karena “kita tak memiliki pengalaman langsung atas apa yang orang lain rasakan”20. Oleh karena itu “hanya melalui imajinasi saja kita dapat membentuk konsepsi atas apa yang orang lain rasakan.”21 “Simpati, bagaimanapun juga, tak dapat, dalam pengertian apapun, dianggap sebagai prinsip yang egois (selfish).”22 Sedangkan cinta-diri mengacu pada perasaan diri sendiri, hal ini karena kita memiliki akses langsung terhadap perasaan kita sendiri. Cinta-diri adalah motivasi kepentingan-diri yang sempit (egoistik).
Dengan konsepsi manusia rasional yang lebih luas ini, ide kebaikan bersama menjadi mudah diakomodasi. Melihat kasus kebocoran nuklir di atas, alasan utama tindakan para pensiunan insinyur Jepang tersebut adalah bahwa “hal ini akan memberi kebaikan pada masyarakat jika generasi yang lebih tua mengambil pekerjaan itu, sebab kami akan mendapatkan dampak cedera yang lebih sedikit dengan bekerja di sana.”23 Dengan sel-sel tubuh yang lebih tua, pertumbuhan penyakit kanker akan berjalan lambat. Sehingga tindakan para pensiunan tersebut akan menyelamatkan para insinyur muda Jepang dari berbagai dampak yang sangat buruk akibat paparan radiasi atas sel-sel muda mereka. Menurut mereka lebih baiklah bagi sebuah negara untuk memiliki lebih banyak anak muda ketimbang para manula. Walaupun demikian tindakan mereka tidak dapat disebut tindakan bunuh diri.
Sebagai kesimpulan, manusia rasional tidak dapat direduksi ke dalam individu soliter yang egoistik, dan terlepas dari lingkungan sosialnya, yang menjadi sumber rujukan nilai-nilai moral baginya. Tindakan memilih bagi individu melibatkan banyak sekali motif. Pengejaran kepentingan-diri dan maksimalisasi utilitas hanyalah salah satunya. Situasi sosial memiliki peran yang teramat penting dalam mempengaruhi pilihan-pilihan seseorang. Sebab bagaimanapun juga kegiatan bernalar adalah sebuah tindakan berdimensi sosial.
***
*Mahasiswa pascasarjana Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta
1Sebagaimana dikutip oleh Amartya Sen dalam esainya berjudul Rational Fools: A Critique of the Behavioural Foundations of Economic Theory, 1977, hlm. 1
4Amartya Sen menuliskan kritik ini dalam esainya Rational Fools… yang terbit tahun 1977. Tapi bahkan hingga saat ini pandangan umum tentang manusia ekonomi sebagai manusia yang semata memaksimalkan kepentingan-diri masih berlangsung.
9Jennifer Roback Morse, Who is Rational Economic Man? dalam Social Philosophy & Policy, vol. 14, No. 1, 1997, hlm. 182 – 183
10Ibid., Morse menulis: “The rational person as calculator acts on the basis of given preferences. That is, the person acts as if he knows how much pleasure and pain he will receive from each possible action.” hlm. 182
11Ibid., Morse menulis: “…realizes that his knowledge of his own preferences is incomplete, in that he may inaccurately anticipate how a good or activity will make him feel.”, hlm. 182
14Immanuel Kant menulis: “…the more a cultivated reason deliberately devotes itself to the enjoyment of life and happines, the more the man falls short of true contentment…” dalam Foundations of the Metaphysics of Morals, Section I, §§ 395 – 396. Sebagaimana dicetak dalam Kelly Rogers, Self-Interest: An Anthology of Philosophical Perspective, 1997, Routledge, New York, hlm. 161
15Ibid.,”reason’s proper function must be to produce a will good in itself and not one good merely as a means..”
17Adam Smith, The Theory of Moral Sentiments,Part III, Section ii, Ch. III sebagaimana dicetak dalam Kelly Rogers, Self-Interest…,1997, hlm. 153